Diskon spesial perawatan gigi sekarang! Scroll kebawah!
Jenis-Jenis Tambalan Gigi: Komposit, GIC, Amalgam, hingga Inlay/Onlay
Bingung memilih tambalan gigi? Kenali jenis tambalan komposit, GIC, amalgam, inlay/onlay, kapan tambalan cukup, prosedurnya, dan cara menjaganya tetap awet.
Bali Dentica
10/20/20265 min baca


Panduan Lengkap Jenis-Jenis Tambalan Gigi: Komposit, Semen Ionomer Kaca, Amalgam, hingga Inlay/Onlay
Hampir semua orang pernah, atau akan, mengalaminya: gigi berlubang. Begitu dokter menyarankan tambal gigi, muncul pertanyaan baru: tambalan yang mana? Ada yang berwarna seperti gigi, ada yang keperakan, ada pula yang dibuat khusus di laboratorium. Masing-masing punya kelebihan, keterbatasan, dan kecocokan yang berbeda.
Di artikel ini, kita bahas jenis-jenis tambalan gigi secara menyeluruh: bagaimana proses gigi berlubang terjadi, kapan tambalan cukup dan kapan perlu perawatan yang lebih besar, bagaimana prosedurnya, apa yang wajar dirasakan setelahnya, dan alasan sebuah tambalan bisa bermasalah.
Bagaimana Gigi Bisa Berlubang?
Gigi berlubang (karies) terjadi ketika bakteri di plak mengubah gula dari makanan dan minuman menjadi asam. Asam ini perlahan melarutkan lapisan terluar gigi (email), lalu berlanjut ke lapisan di bawahnya (dentin) bila tidak ditangani. Karena prosesnya bertahap dan sering tanpa rasa sakit di awal, banyak lubang baru terdeteksi setelah cukup dalam.
Tahap awal: bercak putih atau kapur di permukaan gigi, belum tentu berlubang, dan masih bisa dikendalikan
Tahap lanjut: lubang terbentuk di email, bisa terlihat sebagai bintik coklat atau hitam
Tahap dalam: kerusakan mencapai dentin, gigi mulai ngilu terhadap manis, panas, atau dingin
Tahap sangat dalam: kerusakan mendekati atau mencapai saraf, nyeri bisa berdenyut dan spontan
Semakin dini lubang ditemukan, semakin kecil tambalannya dan semakin banyak struktur gigi asli yang bisa dipertahankan. Itulah alasan utama pemeriksaan rutin penting walau gigi belum terasa sakit.
Mengenal Jenis-Jenis Tambalan Gigi
1. Tambalan Komposit (Resin)
Terbuat dari bahan resin berwarna gigi yang direkatkan langsung pada gigi dan dikeraskan dengan sinar khusus. Warnanya bisa disesuaikan dengan gigi sekitarnya.
Kelebihan: tampilan natural, bisa dipakai di gigi depan maupun belakang, dan umumnya tidak perlu membuang struktur gigi sehat terlalu banyak
Pertimbangan: hasil dipengaruhi ketelitian teknik, terutama menjaga area tetap kering saat pengerjaan; tepi tambalan bisa berubah warna seiring waktu
2. Semen Ionomer Kaca (GIC)
Bahan berwarna gigi yang menempel secara kimia pada gigi dan melepaskan fluoride dalam jumlah kecil.
Kelebihan: sering dipilih untuk gigi anak, lubang di dekat garis gusi atau permukaan akar, dan sebagai tambalan sementara yang lebih panjang
Pertimbangan: umumnya kurang tahan terhadap tekanan kunyah besar dan keausan dibanding komposit pada gigi belakang
3. Tambalan Amalgam
Campuran logam yang sudah digunakan sangat lama untuk gigi belakang. Dikenal kuat menahan tekanan kunyah.
Kelebihan: tahan tekanan dan relatif tidak sensitif terhadap kelembapan saat dikerjakan
Pertimbangan: warnanya keperakan sehingga kurang estetik, dan penggunaannya mulai dikurangi di banyak negara terutama karena pertimbangan lingkungan. Lembaga kesehatan besar menyatakan amalgam umumnya aman bagi kebanyakan orang, tetapi pilihan bahan tetap perlu didiskusikan dengan dokter sesuai kondisimu.
4. Inlay dan Onlay (Keramik atau Komposit Laboratorium)
Restorasi yang dibuat di luar mulut, umumnya di laboratorium berdasarkan cetakan atau scan gigi, lalu direkatkan pada gigi. Inlay menutup bagian dalam permukaan kunyah, sedangkan onlay menutup sebagian atau seluruh tonjolan gigi.
Kelebihan: pas dengan bentuk gigi, kuat, dan cocok untuk kerusakan sedang hingga luas yang terlalu besar untuk tambalan biasa tetapi belum perlu mahkota penuh
Pertimbangan: umumnya butuh dua kunjungan atau lebih dan ketelitian lebih tinggi
5. Tambalan Sementara
Dipakai untuk menutup gigi dalam jangka pendek, misalnya saat menunggu perawatan lanjutan atau restorasi laboratorium. Bahannya tidak dirancang untuk bertahan lama, sehingga kunjungan lanjutan tidak boleh ditunda.
Perbandingan Singkat
Kapan Tambalan Cukup, dan Kapan Perlu Perawatan yang Lebih Besar?
Tahapan Prosedur Tambal Gigi (Komposit)
Pemeriksaan dan, bila perlu, rontgen untuk melihat kedalaman dan luas lubang.
Pembiusan lokal pada area gigi bila dibutuhkan agar prosedur nyaman.
Pembersihan bagian gigi yang rusak dengan alat khusus sambil mempertahankan sebanyak mungkin struktur gigi sehat.
Persiapan permukaan gigi dan pemasangan bahan perekat agar tambalan menempel kuat.
Penumpukan bahan komposit secara bertahap, masing-masing lapisan dikeraskan dengan sinar khusus.
Pembentukan dan penghalusan tambalan supaya bentuk gigi dan gigitan terasa pas.
Pengecekan gigitan dan instruksi perawatan setelah tindakan.
Yang Wajar Dirasakan Setelah Ditambal
Gigi terasa sedikit ngilu terhadap panas atau dingin selama beberapa hari, terutama pada lubang yang cukup dalam
Bibir dan pipi terasa tebal selama pengaruh bius belum hilang; hindari makan sampai sensasi kembali agar tidak tergigit
Gigi terasa sedikit berbeda saat digigit karena penyesuaian baru
⚠️ Kembali ke dokter gigi bila setelah ditambal:
Gigitan terasa terlalu tinggi atau mengganjal, sehingga gigi tersebut menyentuh lebih dulu
Nyeri berdenyut atau ngilu tidak membaik setelah beberapa hari
Tambalan terasa kasar, tajam, atau ada bagian yang lepas
Muncul bengkak pada gusi di sekitar gigi tersebut
Berapa Lama Tambalan Bisa Bertahan?
Tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua orang. Umur tambalan bisa bervariasi dari beberapa tahun hingga jauh lebih lama, dipengaruhi oleh jenis bahan, luas dan lokasi tambalan, ketelitian pengerjaan, kebersihan mulut, pola makan, serta kebiasaan seperti menggertakkan gigi atau menggigit benda keras. Kontrol rutin membantu dokter menilai kondisi tepi tambalan dan mendeteksi masalah sebelum membesar.
Kenapa Tambalan Bisa Bermasalah?
Karies sekunder: gigi di tepi tambalan kembali berlubang karena plak menumpuk di area tersebut.
Tambalan retak atau aus akibat tekanan kunyah berlebih atau kebiasaan menggertakkan gigi.
Tambalan lepas karena ikatan melemah atau kerusakan gigi di bawahnya berlanjut.
Gigi patah di sekitar tambalan, terutama pada gigi yang sudah banyak kehilangan struktur.
Infeksi pada saraf gigi yang baru muncul setelah beberapa waktu, terutama bila lubang awalnya sudah dalam.
Cara Menjaga Tambalan dan Gigi Tetap Sehat
Sikat gigi dua kali sehari dengan teknik yang benar, termasuk area tepi tambalan dan garis gusi.
Bersihkan sela gigi setiap hari dengan dental floss atau sikat interdental.
Kurangi frekuensi camilan dan minuman manis, karena yang paling berpengaruh adalah seberapa sering gigi terpapar gula.
Hindari menggigit benda keras seperti es batu atau kuku, serta membuka kemasan dengan gigi.
Jika kamu menggertakkan gigi saat tidur, bicarakan dengan dokter tentang pelindung gigi malam.
Kontrol dan scaling rutin sesuai anjuran dokter agar masalah baru terdeteksi sejak dini.
Mitos vs Fakta Seputar Tambal Gigi
Pertanyaan yang Sebaiknya Kamu Ajukan ke Dokter Gigi
Jenis tambalan apa yang paling sesuai untuk gigi saya, dan apa alasannya?
Apakah lubang ini cukup ditambal, atau ada kemungkinan perlu perawatan lain?
Berapa kali kunjungan yang dibutuhkan?
Apa yang perlu saya perhatikan setelah ditambal, dan kapan saya harus kembali kontrol?
Apa yang bisa saya lakukan supaya lubang baru tidak muncul?
Pemeriksaan dan Tambal Gigi di Bali Dentica
Gigi berlubang paling mudah dan paling sederhana ditangani saat masih kecil. Di Bali Dentica, dokter gigi kami akan memeriksa kondisi gigimu secara menyeluruh, menjelaskan pilihan tambalan yang sesuai untuk kasusmu, dan menyampaikan secara jujur bila kondisi tertentu memerlukan perawatan yang lebih lanjut atau penanganan oleh dokter gigi spesialis.
📍 Bali Dentica
Jl. Sedap Malam no. 88A, Kesiman, Denpasar Timur
Buka setiap hari 09.00–21.00 WITA
⭐ Rating Google 4.9 dari 70+ ulasan pasien
👉 Chat via WhatsApp Sekarang untuk jadwalkan pemeriksaan gigi.






